Bisa juga dilihat di http://kemudian.com/node/126563
Siang… Langit tiba-tiba gelap, hujan datang
Para anak kecil keluar kegirangan
Meninggalkan pertapaan tidur siang
Membasahi raga di musim kemarau panjang
Bersenang-senanglah anak-anak mungil
Dewasa tak lagi kau anggap alam selayak surga
Selokan tanah tersulap menjadi kolam renang
Ceplak… cepluk… selusuri aku dengan langkah riang
Jernih berubah kuning tanah liat
Keajaiban!! Ucap wajah yang terlihat menggeliat
Dimana itu semua sekarang?
Keajaiban kota mengubur prana alam
Tiada lagi yang mengganggu anak tidur siang
Di dalam selokan selimut beton aku terdiam
Jernih riak tak lagi menjadi cermin biru
Korban sampah, yang mengubah cerah menjadi hitam
Berharap anak kecil bermain dengan riakku
Harapan kelabu dari jiwa yang tak dapat berucap kalam
Bisa juga dilihat di sini http://kemudian.com/node/126562
Bagiku keindahan hanyalah menatap ke atas
Meresapi pantulan sesuatu yang akan kupantulkan lagi
Tiada saat n’tuk kuberpikir kelayakan uji
Segala hal kuterima karena fitrah adalah hakiki
Termasuk kau
Tiada tempat kutinggalkan sosok tubuh
Berkelana tanpa ada yang aku cari
Akankah jiwaku hidup memaknai abadi?
Pun ku tak mengerti
Demi bersaksi perubahan rona wajah langit
Tak rela kusembunyikan wajah-wajah muram
Langit tak akan pernah berbohong
Begitu juga aku yang berharap terus patuh
Menjalani fitrah batin
Ketenangan yang tersimpan di dalam ronaku
Hanya mampu menyimpan rasa yang tertabirkan
Rasa gelisah…
Rasa haru…
Rasa asa…
Hanya Dia yang tau apa di balik qalbu
Dan aku rela n’tuk menjadi bagian dalam naskah kehidupan jemu
Selamat Datang.
Mungkin apa yang akan kamu dapati di sini bukanlah sesuatu yang WAH!! Karena memang jujur, aku tak begitu pandai berpuisi. Bagiku puisi adalah media -kotak sampah- Di sinilah aku bisa menumpahkan segala rasa penat dalam otak. Aku lupa, mungkin kalo tidak salah kalimat ini berasal dari Om TsPinang… “Puisi berawal dari renungan terdalam dari pikiran.” Itulah dia yang aku maksud.
Aku menyadari bahwa ada teknik-teknik menulis puisi, yang tak bisa dipungkiri adalah hal yang dapat meningkatkan kualitas puisi. Dimana kekuatan puisi berasal dari : pemilihan kata/ diksi/ analogi/ metafora/ dsb. Bahkan mungkin lebih daripada itu.
Dalam blog puisi ini : rasa adalah nomor satu, teknik adalah nomor satu koma satu. ^^ Silakan apresiasikan semaumu. Karena cinta tak harus saling memiliki (nah loh)